monolog blog
Blog ku sayang.. blog ku malang..
Yang selalu setia menjadi tumpahan muntahanku..
Seperti kekasih yang tidak dimengerti oleh yang dianggapnya kekasih..
dan bercerita pada bantal melalui mimpinya..
Kamu yang mengajarkanku percaya diri untuk menulis. Lalu dipublikasikan ke seluruh dunia, walaupun entah mereka akan membacanya atau tidak. Berguna atau sia-sia.
Dirimu membantu aku yang ekstrovert ini untuk menyalurkan kebutuhan dasarku. Di saat aku menyadari masalahku sebenarnya itu-itu saja. Di mana diriku merasa bersalah jika harus bercerita tentang sesuatu yang tidak cukup penting dibandingkan permasalahan teman-temanku yang lain.
Sahabat bisuku membebaskan aku berlari diantara pikiranku sendiri, tanpa terikat tata bahasa. Tanpa ada keharusan dimengerti oleh orang lain. Hanya tali lusuh wujud gengsi yang terkadang mengharuskan tulisanku setidaknya bermanfaat untuk orang lain. Padahal kan dia hanya diam, menerima huruf-huruf yang aku ijinkan satu persatu muncul seperti jamur Mario Bros…
Dulu katanya.. mencari teman untuk berbagi beban itu sulit. Tapi kalau mencari orang untuk dibantu, banyak stok, dan tidak habis-habis.
Bagaimana kalau aku sudah dapat temen berbagi beban, tapi aku pun tidak tega membebani pundak mereka sementara beban mereka pun sudah besar dari awal mula?
Seperti kata mba Avril yang beberapa tahun lalu sering teriak-teriak “Isn’t anyone try and find me won’t somebody come take me home..”
Sementara sahabat bisuku ini yang menjadi rumah bagiku, disaat aku menjadi rumah bagi yang lain.
Ah, tapi kata temanku aku belum jadi rumah.. aku masih jadi tempat persinggahan di tengah gurun yang kering.
Mungkin itu sebabnya ya? Kadang-kadang ada yang tidak kembali, tapi yang pasti tidak ada yang menetap.. Yah, yang jelas haus mereka yang bersinggah pun mengobatiku.
Tapi mungkin temanku juga salah. Aku bukan rumah singgah di padang pasir. Tapi mobil berjalan tempat bersinggah, tempat singgah berjalan? Bar mobil? ya atau apalah… Karena aku pun tak bisa diam. Makanya tidak ada yang menemukanku dan membawaku pulang ke rumah. Jalan mulu sih!
Duh blog.. Aku seperti membutuhkan seseorang, tapi tidak sembarangan orang. Tapi aku juga merasa belum siap benar untuk berbagi. Bagaimana kalau aku menemukan seseorang tapi malah membuatku lebih tersesat?
Huh.. sebenarnya aku tidak perduli jika tersesat.. Asalkan si orang ini ternyata membawa teduh rumah dalam sorot matanya..
Sehingga tiap kali aku melihatnya, aku sudah di rumah..
Kamu blog yang sekarang jadi rumahku. Tapi kamu tidak punya mata yang dibawa ke mana-mana. Kamu juga diam saja kalau aku kasih pertanyaan. Kamu cuma memfasilitasi teman-teman yang perduli untuk menjawab apa-apa pertanyaan aneh yang aku lontarkan.
Tapi aku tetap butuh teman bercerita yang lain juga..
Hmm.. perasaan seperti itu tidak akan selesai. Tema kesindirian memang akan selalu ada.
Anyway, terima kasih ya blog. Makanya itu, tanda terima kasihku untukmu tolong didoakan selesai bulan depan. Biar kamu tambah terkenal, dan diurusi oleh orang-orang banyak. Supaya orang yang tidak tahu menjadi tahu, dan mengambil manfaat seperti aku padamu…
Amin..